- Waktu lahir berat Rafael 3.7 kg. Aku aja kaget karena itu (kata orang-orang) termasuk bayi yang besar. Benar saja, nyusunya pun kuat! Waktu di RS aja waktu ditanya Rafael gimana nyusunya, suster bilang "Ow pintar sekali." Hohohoho.... Apalagi kalau udah lapar dan mami telat menyusui, pasti Rafael menangis sekeras-kerasnya. Mami & papi sempat khawatir kalau Rafael bakal jadi gendut karenanya. Tapi sekarang tidak lagi setelah kami membaca bahwa ASI bebas diberikan sesuai keinginan bayi :)

- Tenaga super. Kalau sedang 'mengamuk' – menangis keras, pasti taplak ompol sudah melayang karena ditendangi. Hahahahaha...

- Senang banget ngulet, terutama abis bangun dari tidur. Yang hebat, waktu Rafael berumur 4 hari, waktu ngulet terus mbalikkan badan. Wow, padahal umur baru 4 hari! Kog bisa ya? CKckckck.... (lihat gambar)

- Suka banget digendong. Kalau nangis lalu digendong, pasti tangisan segera berhenti. Tampaknya karena ngerasa nyaman dalam pelukan ya, nak. Tapi yang nggendong gak kuat gendong lama-lama!
- Mata juga semakin membuka lebar (waktu lahir matanya hanya membuka sedikit, mungkin karena masih takut-takut berhadapan dengan dunia di luar rahim). Dan matanya mulai senang mengamati obyek-obyek di sekitarnya, walaupun dari yang mami baca jarak pandang bayi umur segini masih pendek.
- Senang mandi dan menikmati saat-saat sedang dimandikan oma. *Setelah oma pulang, mami yang mandiin ya :)
Mami & papi senang ngajak Rafael bicara. Kami bernyanyi. Dan Rafael kayaknya menikmati, walaupun pasti belum ngerti. Tapi dari yang mami baca, mengajak bayi berbicara dan menyanyi itu bagus buat perkembangan IQ dan bahasa :))
Akhirnya tanggal 3 Februari 2010 Rafael genap 1 bulan :) Horeee!!! Rambutnya yang lebat dipangkas habis. Aduh, sayangnyaa.... Tapi gimana lagi, ngikut tradisi. Tapi di mata mami Rafael tetap bayi yang ganteng. ^^




Mami berharap dari sekarang akan makin banyak kisah-kisah Rafael beserata mami-papi bersama-sama melewati hari demi hari perkembanganmu (*mami tidak sabar melihatmu bertumbuh-kembang dan semakin pintar!)
Waktu newborn, gak tau kenapa, muka Rafael bintik-bintik gitu, merah-merah. Makin hari diliat kog makin banyak aja. Whoaa.... panic attack!!!
Segera deh mami tanya mbah Google. Ada yang bilang pake salep ini lah itu lah. Uh, bikin bingung, soalnya kulit bayi kan masih sensitif, salah-salah pake produk ntar kenapa-kenapa efeknya - whew takut dunk!
Biang keringat juga bermunculan. Di leher & lengan. Oma bilang pake virgin coconut oil. Oma bikin sendiri lho. Efeknya, kabur smua tuh biang keringat. :)
Untuk muka yang bintik-bintik merah, akhirnya mami putusin coba pake Johnson&Johnson's Baby Cream. Setelah dicoba beberapa hari, eh ngefek lho! Makin berkurang. Akhirnya pas ulbul (ulang bulan) 1 bulan, mukanya uda kliatan mulus (belum 100% seh), tapi uda OK buat difoto :)
Before:

After:

Sebagai orang-tua baru, aku sama sekali tidak mengerti cara mengurus bayi. Untung lah ada oma Rafael alias mamaku yang tinggal disini sampai Rafael berumur 1 bulan dan turut membantu dan mengajariku. Setiap hari adalah pembelajaran bagiku.
Hari-hari pertama setelah pulang dari RS adalah masa-masa terberat. Rafael sering rewel di malam hari. Menangis tanpa aku mengerti apa maksudnya. Walaupun akhirnya aku mengerti kalau rewel tidak mau tidur di malam hari adalah karena belum kenyang menyusu.

Bayi yang baru lahir sering terbangun malam untuk menyusu. Rafael pun gitu. Awalnya aku tidak terbiasa. Melawan rasa kantuk karena harus terbangun tengah malam, lalu harus bangun pagi-pagi pula karena Rafael sudah bangun, ditambah sepanjang hari mengurusnya, aku sempat merasa stres dan menangis mengadu ke suami. Aku butuh penyesuaian diri terhadap situasi dan keadaan yang benar-benar baru ini.
Aku kerap berpikir bahwa aku harus bersyukur karena memiliki Rafael. Tuhan sudah memberi anugerahnya untuk aku dan suami, sementara ada banyak pasangan lain yang susah mendapatkan anak.
Dan seiring waktu, aku mulai terbiasa dengan rutinitas bayiku. Dan aku pun semakin pandai merawatnya.
Aku rasa aku mulai menikmati peran baruku ini. :))
Umumnya orang yang datang berkunjung akan bertanya berapa berat dan panjangnya ketika lahir. Dan waktu mereka mendengar berat Rafael 3.7 kg, mereka rata-rata berkata kurang lebih begini, 'Wow besar ya.' Hehehe... apalagi ditambah pipi Rafael yang kata mereka seperti bakpao ;D
Kebanyakan juga bilang mirip papinya banget. Mami yang mengandung selama 9 bulan tidak kebagian mirip apa-apa? T_T :( Hahahaha... Tapi tidak masalah lah. Yang penting jangan mirip muka tetangga. Whew. Yang pasti matanya seperti mata papi, sipit dan tidak ada lipatan mata!

Mami sendiri paling suka sama rambut Rafael yang lebat. Sangat sempurna. Muka lucu, sangat menggemaskan. Aku percaya Rafael adalah bayi paling ganteng sedunia, hahahahha.... *namanya juga maminya, boleh donk muji anak sendiri* wkwkwkkw....
Tanggal 1 Januari 2010, sekitar jam 4 pagi, aku terbangun dari tidurku. Aku merasa heran mengapa mulai banyak keluar lendir. Aku berpikir, jangan-jangan ini tanda aku hendak melahirkan. Tapi aku diam saja dan mencoba kembali tidur. Jam 6 pagi aku mulai merasakan kontraksi, sementara lendir juga terus keluar. Segera aku memberitahu mamaku kemudian suami. Mamaku yakin itu tanda-tanda hendak melahirkan!Aku mulai panik, sambil berpikir “Wow, beginikah rasanya hendak melahirkan?” “Apakah bayiku akan lahir hari ini tepat tanggal 1?” Macam-macam perasaan bercampur-aduk; takut, khawatir, bersemangat, sekaligus senang karena sebentar lagi bertemu dengan bayiku.Sekitar jam 9, aku, suami, dan mamaku pun berangkat ke RSU Budi Rahayu. Setelah dicek, ternyata baru bukaan 2. Jadi kami memutuskan pulang. Apesnya, karena saat itu adalah awal tahun sehingga dokter SPOG yang mestinya menanganiku, sedang cuti! :( Aku pun semakin panik (*benar-benar bukan perasaan yang menyenangkan!). Terpaksa kami memakai dokter yang tersedia. Selama di rumah perutku terus terasa sakit. Aku tidak bisa tidur. Untung lah ada suami yang selalu siap sedia berada di sampingku saat aku membutuhkannya. Malam itu pula aku dan suami tidak tidur sama sekali, karena aku selalu mengeluh kesakitan dan dia menemaniku.Paginya (tanggal 2) kami kembali ke rumah sakit. Bukaan 4. Diputuskan akan langsung mondok saja. Kontraksi terus berlanjut, dan mulai menjalar sampai ke pinggang dan sekitarnya. Aku stres karena kesakitan. Suami selalu setia mendampingi. Kami sudah sepakat untuk terus bertahan karena satu alasan: aku ingin melahirkan secara normal agar ketika si bebi dikeluarkan, aku dapat langsung memeluknya :) Malam itu kembali aku dan suami tidak bisa tidur. Akhirnya sekitar jam 4 atau 5 air ketuban pecah. Aku pun dilarikan ke ruangan bersalin. Tidak ada rasa paling tidak nyaman selama proses melahirkan selain rasa ingin mengejan yang teramat sangat padahal belum waktunya! Bahkan rasa sakit karena kontraksi saja kalah! :( Dokter datang sekitar 5.30. Proses melahirkan pun dimulai. Karena beberapa sebab, aku gagal melahirkan secara normal, dan aku tidak bisa memeluk bayiku sesegera dia keluar dari rahimku :(( Ya, aku melahirkan lewat operasi caesar. Untung lah aku tidak dibius total :)Pukul 7.55 pagi, 3 Januari 2010, tangisan anakku memecah ruang operasi. Dia menangis kencang, dan aku tidak dapat melukiskan betapa bahagia diriku mendengarnya! :)) Mereka memperlihatkannya padaku dan aku tersenyum bahagia melihat nya adalah bayi yang sehat. Waktu suster mendekatkan pipinya untuk kucium, aku merasa aneh dan takjub, karena 'dia adalah bayiku yang sudah aku tunggu-tunggu, bayi yang sudah aku sayangi sebelum aku tahu wajahnya.'note: Kontraksi itu sakitnya seperti mules waktu hendak/sedang mens, cuma jauh lebih parah!

Rafael Andrei Federico. Lahir: 3 Jan 2010, 7.55 WIB. BB: 3.7 kg. PB: 50 cm.
Mother's Heart
I loved you from the very start,
You stole my breath, embraced my heart.
Our life together has just begun
You're part of me my little one.
As mother with child, each day I grew,
My mind was filled with thoughts of you.
I'd daydream of the things we'd share,
Like late-night bottles and Teddy bears.
Like first steps and skinned knees,
Like bedtime stories and ABC's.
I thought of things you'd want to know,
Like how birds fly and flowers grow.
I thought of lessons I'd need to share,
Like standing tall and playing fair.
When I first saw your precious face,
I prayed your life be touched with grace.
I thanked the angels from above,
And promised you unending love.
Each night I lay you down to sleep,
I gently kiss your head and cheek.
I count your little fingers and toes;
I memorize your eyes and nose.
I linger at your nursery door,
Awed each day I love you more.
Through misty eyes, I dim the light,
I whisper, "I love you" every night.
I loved you from the very start,
You stole my breath, embraced my heart.
As mother and child our journeys begin,
My heart's yours forever little one.